Setiap minggu, grup WhatsApp wali kelas anak gue isinya hampir selalu sama: promo les, bimbel, atau kelas tambahan. Ada yang nawarin les matematika, ada yang ngasih diskon kelas coding. Semua kelihatan penting. Dan sebagai orang tua yang tinggal di kota besar, rasanya kayak ada tekanan halus: kalau anak nggak ikut, nanti ketinggalan.
Gue pernah di posisi itu. Dulu, hampir tiap semester gue nyari les buat anak gue. Hasilnya? Duit habis, anak capek, dan nilai nggak selalu naik. Setelah beberapa kali "salah beli", gue sadar ada satu hal yang selalu gue lewatkan: gue nggak pernah tanya dulu kenapa anak gue butuh les.
Nah, kalau kamu sekarang lagi di fase yang sama—bingung mau les apa, takut salah pilih—coba tahan dulu dompetmu. Jawab empat pertanyaan ini sebelum memutuskan apa pun.
Baca juga: Stop Belajar Sampai Larut, Warga Desa Bisa Coba Cara Ini
Pertanyaan 1: Masalahnya di materi, atau di cara belajar?
Ini pertanyaan paling penting, dan paling sering nggak ditanyakan. Banyak orang tua langsung menyimpulkan "anak gue lemah matematika" padahal masalahnya bukan di matematika. Bisa jadi anaknya nggak paham cara membaca soal, nggak bisa fokus lebih dari 15 menit, atau cuma nggak nyaman sama cara guru di sekolah.
Bedanya besar, lho. Kalau masalahnya materi, les tambahan memang masuk akal. Tapi kalau masalahnya cara belajar—misalnya anak selalu belajar sambil scroll HP—les semahal apa pun nggak akan ngefek. Ibaratnya, kamu beli sepatu lari mahal tapi tetap lari pakai sandal jepit.
Coba duduk bareng anak 10 menit, lihat dia ngerjain PR. Dari situ biasanya kelihatan masalah aslinya, bukan cuma gejalanya.
Pertanyaan 2: Anaknya benar-benar mau, atau cuma kamu yang mau?
Gue tahu ini pertanyaan yang agak nggak enak. Tapi jujur aja, banyak les yang berakhir sia-sia karena anak ikut cuma buat nyenengin orang tua. Dia datang, duduk manis, pulang. Materinya nggak nempel sama sekali.
Anak-anak di usia SD sampai SMP biasanya cukup terbuka kalau ditanya baik-baik. Bukan dengan nada interogasi, tapi kayak ngobrol biasa. "Menurut kamu, pelajaran mana yang paling bikin pusing?" atau "Kalau ada yang bisa bantu, kamu mau dibantu di bagian mana?" Jawabannya sering di luar dugaan kita.
Kalau anak bilang dia butuh bantuan di satu mapel tertentu, itu sinyal bagus. Tapi kalau jawabannya "nggak tahu, terserah Bunda aja", mungkin yang perlu dibenahi dulu bukan lesnya, tapi motivasinya.
Pertanyaan 3: Waktunya dari mana?
Ini yang paling sering kelewat di keluarga kecil di kota besar. Anak sekolah dari pagi, pulang sore karena macet, belum lagi ekstrakurikuler. Kalau ditambah les dua kali seminggu, kapan dia istirahat?
Gue pernah hitung jadwal anak gue sendiri dan kaget: total waktu istirahatnya di hari sekolah cuma sekitar satu jam, itu pun sambil makan siang. Nggak heran dia gampang rewel dan susah fokus. Anak yang kecapekan bukan cuma nggak bisa belajar—dia juga jadi gampang sakit.
Jadi sebelum daftar les, lihat dulu jadwalnya. Kalau les itu harus "mencuri" waktu tidur atau waktu main anak, mungkin itu bukan investasi, tapi utang yang ditagih nanti.
Hitung dulu, jangan kira-kira
Tulis jadwal anak seminggu penuh di kertas, termasuk waktu tidur dan waktu nganggur. Dari situ kamu bakal kelihatan jelas mana slot yang benar-benar kosong. Kalau nggak ada, ya berarti belum waktunya nambah kegiatan.
Pertanyaan 4: Kalau nggak les, apa yang bisa kita lakukan di rumah?
Ini pertanyaan yang paling sering bikin gue dan istri ngobrol panjang. Dan jawabannya sering mengejutkan: banyak hal yang bisa dilakukan di rumah tanpa biaya besar, asal konsisten.
- Bikin rutinitas belajar pendek tapi rutin. 20 menit setiap hari jauh lebih efektif daripada 3 jam sekali seminggu.
- Belajar sambil ngobrol. Tanya anak soal pelajarannya, minta dia jelasin ke kamu. Kalau dia bisa jelasin, berarti dia paham.
- Manfaatkan fasilitas gratis. Perpustakaan kota, taman, atau komunitas belajar di lingkungan biasanya punya program yang nggak mahal.
- Kurangi gangguan dulu. HP di luar kamar saat belajar itu sederhana, tapi efeknya besar banget.
Gue bukan anti-les, kok. Les itu alat yang bagus kalau dipakai di situasi yang tepat. Tapi buat keluarga kecil di kota dengan biaya hidup yang nggak main-main, setiap pengeluaran harus punya alasan yang jelas. Bukan cuma karena takut ketinggalan.
Anak gue sekarang ikut satu les, dan itu pun setelah kami jawab empat pertanyaan di atas dengan tenang. Hasilnya jauh lebih masuk akal: dia mau ikut, waktunya ada, dan masalahnya memang di materi. Duitnya keluar, tapi nggak ada rasa nyesel.
Jadi, sebelum kamu transfer uang pendaftaran les minggu ini, coba jawab dulu empat pertanyaan tadi. Kalau semua jawabannya sudah jelas, silakan lanjut. Kalau belum, mungkin yang dibutuhkan anakmu bukan les tambahan—tapi orang tua yang lebih tenang dan sedikit lebih sabar.
===